BALA MALAHIA CORNER MENGUCAPKAN SELAMAT ATAS DILANTIKNYA DRS CORNELIS MH MENJADI GUBERNUR KALIMANTAN BARAT man CHRISTIANDY SANJAYA SEBAGAI WAKIL GUBERNUR. HIDUP PUTRA DAYAK!!

Senin, 30 Juli 2007

BABURUKNG

(Adat Minta Petunjuk Jubata)

by Herkulanus Agus

Rumah tua itu terletak diantara dua sungai. Beratapkan Zeng, pondasinya dari Kayu belian (kayu ulin) dan tiang penyangganya dari kayu kelas dua.Sekitar seratus tahun sudah tempat itu, digunakan warga suku Dayak Kanayant Sungai Ambawang untuk menyampaikan segala permohonan kepada Jubata (Tuhan). Dari bayar niat, hingga meminta petunjuk sebelum gawai perkawinan dilakukan.
Pagi itu, Kamis (10/4) kira-kira pukul 09.00 WIB. Warga Desa Pancaroba dan warga
Dusun Lingga Dalam Desa Lingga Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Pontianak berkumpul ditempat yang sama. Baburungk (Meminta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum perladangan dimulai). Berbagai sesembahan disiapkan dengan bergotong royong . Paraga adat (Kelengkapan adat) disiapkan bersama-sama. Babi, ayam, tumpi (cucur), subak atau soleng’k (beras yang dimasak dalam batang bambu), beras putih dan beras pulut, bontongk (beras yang dimasak didaun), nasi pulut, kunyit (untuk tepung tawar), sirih kapur, air dan telur.
Tuha Tahun ( Pemimpin adat) Saena, komat kamit membacakan bamang (berdoa) meminta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebelum perladangan dimulai. Matanya menantap lurus kedepan, sesekali ia membunyikan lempengan besi tebal, hingga keluar pantulan yang cukup nyaring, teng.. teng. Tujuh kali besi itu bertemu, baru dia berhenti sesat. Kemudian ia melanjutkan kembali bamangnya. “Asa, dua, talu, ampat, lima, anam, tujuh,.. o..pama Jubata,”. Berkali-kali kalimat yang sama diulangi.
Suara warga yang cukup ramai mendadak hening. Seolah ingin memperoleh jawaban dari bamang yang disampaikan Saena. Namun sebagaian yang bekerja didapur tetap larut dengan pekerjaanya.
Ada dua pemimpin upacara dalam baburung ini. Saena memimpin upacara di Padagi (Rumah), letaknya persis disebelah selatan bangunan tua itu. Ia sudah lima Tahun diangkat menjadi Tuha Tahun, menggantikan Loyang pendahulunya yang telah menghadap sang Khalik. Loyang sebelumnya juga menggantikan Aho sebagai Tuha Tahun. Aho juga sudah meninggal.
Sedangkan pemimpin adat lainya Darwis bertugas memimpin di anjong (Altar Persembahan), persis dibawah kayu besar. Sesembahan itu diletakan diatas kayu yang dibuat dari belian memyerupai altar persembahan. Isinya sama dengan persembahan yang di Sangahant (didoakan). Darwis pun babamang, “ asa, dua, talu, ampat, lima, anam, tujuh, o pama jubata, ngian kami bapadah…kak kita.,”. Ayam yang masih hidup kemudian diangkat keatas. Kekiri selanjutnya kebawah. Sekitar dua puluh menit
Lamanya Darwis membacakan mantra. Persis dibawah pohon yang kira-kira memiliki diameter 66. Pohon itu rindang. Membuat teduh setiap orang yang berada dibawahnya. Pohon itu juga dililit kayu ara (pohon parasit) yang batangnya juga sudah cukup besar. Sebenarnya Tuha Tahun, hanya sementara menancapkan alktar persembahan disana. Namun sering digunakan oleh warga yang bapinta (memohon) disana..
Ada dua peristiwa adat dalam baburung ini, pertama acara bapipis (meminta keselamatan). Persembahan yang disampaikan kepada Jubata semuanya masih mentah, kemudian didoakan. Setelah itu para tamu yang hadir diberi tepung tawar yang dioleskan diatas kening para tamu. Mula-mula tepung tawar ini dioleskan keatas kening para tokoh desa, seperti Sekdes. Sebab ketika itu, pejabab tertinggi yang hadir cuma Sekretraris Desa Selanjutnya tepung dioleskan kepada semua warga yang hadir. Sehingga tidak satupun warga yang tidak diolesi tepung tawar. Baru kemudian Nyangahant dilanjutkan oleh pemimpin upacara. Ini dimaksudkan agar para warga yang dating, mendapatkan petunjuk dari jubata. Petunjuk ini berupa suara burung yang bersahut-sahutan setelah Nyangahant disampaikan. Biasanya dalam suku Dayak Kananyant disebut rasi. Kicauan burung keto yang nyaring pertanda perladangan tahun ini hasilnya akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Warga lain sibuk menyediakan hidangan berupa daging babi dan ayam yang tadinya dipotong. Daging-daging itu, dimasak dengan aneka sayuran ala masakan Chaines food. Sudah cukup lama suku Dayak Kanayant Sungai Ambawang hidup berbaur dengan warga Tiong Hua. Malah diantara mereka ada yang mempererat hubungan kekeluargaan melalui perkawinan.
Hubungan baik antara warga Dayak dengan Tiong Hua ini, tampak sekali dari tempat-tempat sakral yang ada di sungai Ambawang. Misalnya di Pantulak Kadiaman (tempat peribadatan Tiong Hua) di Kuala Ambawang. Yang membelah Sungai Landak dengan Sungai Ambawang.
Saat itu, hampir dua ratus warga yang ikut ambil bagian dalam upacara itu. Mulai yang sudah beruban hingga anak kecil. Namun sayang tidak kelihatan sosok pemudi desa yang hadir. “Apakah tidak ada diantara mereka yang peduli degan adat ini,” ujarku melihat keadaan.
Saat-saat menyantap makanan yang ditungu-tunggu warga pun siap untuk disantap. Namun ketika itu pemimpin upacara meminta kesempatan waktu untuk angkat bicara.
“Kita akan mengadakan Lalak uma (Pantang Ladang) selama tiga,” kata Saena. Pantang Keladang ini harus dipatuhi warga dan tidak boleh dilanggara. Apabila dilanggar warga akan dikenakan sangsi adat kerena diangap ngarumpang Lalak (melanggar pantang). Sangsinya berupa enam tahil tengah, yaitu berupa babi atau ayam. Atau juga bisa berupa Darah ampa’ (Sirih dan pinang yang dikunyak kemudian diludahkan). Hukuman Darah ampak sebenarnya cendrung lebih memalukan bagi sipelanggar dari pada hukuman enam tahil tengah. Karena disini pelanggar dianggap sebagai momok oleh masyarakat adapt.
Adat Baburung Dayak Kanayant berasal dari adat Karimawang asal Mempawah atau Bangkule Rajak. Baburung adalah sebagaian dari upacara adapt dalam poerladangan. Sebab masih ada upacara lainya dalam peristiwa perladangan itu.
Pada peristiwa Bahuma (berladang ) masyarakat Dayak Kanayant Sungai Ambawang, tidak dapat dipisahkan dengan proses adat-istiadat. Dari mulai perladangan hingga panen.
Menurut Pangaraga (Pengurus adat) Gamo, setekah baburung’k biasaya warga meminta kembali kepada Jubata melalui upacara yang sederhana. Yaitu upacara Ngawah (memberitahu) materi adatnya adalah berupa sekapur dan sirih. Setelah tiga hari baru kemudian masyarakat mulai menebas lading. Baik lahan baru yang akan dibuka, maupun lading lama yang akan difgarap kembali. Kemudian upacara dilanjutkan dengan nurunan padi (membawa padi keladang), selanjutnya adat Ngabat (menutup lubang padi yang sudah dibenihi), membuang panyakit padi yang disebut juga eap.
Warga Desa Pancaroba Saidi Iyat, berharap agar kegiatan Balalak ini mendapat perhatian dari pemerintah. Sebab didalamnya ada unsure budaya yang perlu dilestarikan. Sehingga nantinya bisa menjadi asset bagi masyarakat Kalimantan Barat.
Apalagi di Kalimantan Barat cukup banyak suku yang mempunyai budaya yang unik. (publish in Borneo Tribune, 2007)


1 komentar:

Bene Dictus mengatakan...

Damaku Eben anak Ije', kamuda' Pancaroba. ampeant diam ka' Jogja.
Aku ikut repo, samanjak ada Malahia Corner kami nang ada ka' ranto jadi mudah ngobati' rasa rindu kami ka' kampokng...